LITERASI MULTI DIMENSI DALAM BIMBINGAN KONSELING
LITERASI MULTIDIMENSI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Melemahnya
minat membaca siswa, salah satunya adalah akibat dari “setan kotak”, si raja
canggih diera digital ini.
Saya
menyebut handphone (hp)
dengan setan kotak. Why? dengan hp kita bisa menggenggam dunia. Tinggal klik semua didapat. Informasi baik
maupun kurang baik bebas untuk diakses.
Semenjak
adanya hp android, perhatian siswa
mulai luntur pada materi pelajaran yang diberikan guru, mereka cenderung asyik
menggunakan aplikasi “setan kotak”. Kebiasaan
membaca buku mulai ditinggalkan. Siswa lebih menyukai mencari diinternet,
menanyakan pada “mbah google”. Mereka menganggap tidak perlu bersusah payah
untuk membaca dan menghafal, karena menurutnya lebih mudah didapatkan dari hp.
Cepat dan tidak perlu semuanya dibaca seperti membaca buku. Serba
instan!
Kabar
tidak sedap, dari data UNESCO pada tahun 2012. Indonesia menduduki peringkat ke
60 dari 61 negara dalam hal kebiasaan membaca. Hal ini sangat memprihatinkan.
Kebijakan
pemerintah dalam gerakan literasi yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 23
Tahun 2015 perlu diacungi jempol. Perlunya sekolah menjadwalkan waktu untuk
pembiasaan membaca bagi siswanya. Sepuluh menit, lima belas menit sebelum
pelajaran dimulai.
Semua komponen sekolah harus terlibat dan mendukung gerakan literasi ini,
tidak terkecuali guru bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling merupakan bagian
integral dalam proses pendidikan, memiliki kontribusi dalam penyiapan Sumber
Daya Manusia (SDM). Dalam perspektif bimbingan dan konseling, siswa merupakan individu yang sedang dalam proses
berkembang kearah kematangan dan kemandirian.
Empat
bidang bimbingan dan konseling yang diberikan pada siswa antara lain bimbingan pribadi,
bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir. Diharapkan dengan
diberikan ke empat bidang bimbingan tersebut siswa dapat mengembangkan dirinya
secara optimal.
Keempat
bidang tersebut diberikan dalam bentuk layanan, mulai layanan konseling
individual, layanan konseling kelompok, layanan bimbingan kelompok, layanan
klasikal.
Seiring
perkembangan teknologi yang super canggih guru bimbingan konseling dituntut
harus aktif dan kreatif dalam memberikan layanan, buang jauh-jauh kesan layanan
yang membosankan bagi siswa.
Literasi
multidimensi sangat membantu kinerja guru bimbingan konseling, bagaimana tidak?
Idealnya setiap 150 siswa diampu oleh satu guru bimbingan konseling, namun yang
terjadi dilapangan sangatlah memprihatinkan. Guru Bimbingan konseling mengampu
lebih dari 300 siswa bahkan ada yang mengampu seluruh siswa di sekolah. Hal ini
dikarenakan sekolah hanya mempunyai satu guru Bimbingan konseling.
Bisa
dibayangkan mereka harus antri untuk sekedar mengeluarkan uneg-unegnya? Mana
mungkin mereka bisa terlayanani dengan baik? Bagaimana dengan siswa yang tidak kebagian waktu?
Bagaimana menjaring siswa yang pemalu?
Literasi
digital solusinya. Penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi dalam
konseling individu tentunya merupakan langkah yang paling tepat, mudah, cepat
dan murah.
“BK
Online” sudah waktunya harus diberikan pada siswa. Dengan “BK Online” melatih
siswa untuk berani menceriterakan permasalahannya melalui tulisan, yang tentunya
siswa berusaha untuk berpikir, melatih siswa untuk berkomunikasi lebih lancar. (baik
dengan cara menulis maupun langsung melalui telephone).
Melalui
“BK Online” diharapkan semua permasalahan siswa bisa diselesaikan meskipun
tanpa harus konseling secara langsung bertatap muka.
Seperti
halnya Layanan bimbingan klasikal didalam kelas, guru bimbingan konseling dapat
juga menggunakan literasi digital, misalnya
dengan cara menayangkan film atau video yang diambil dari internet kemudian
siswa diminta untuk menceriterakan kembali apa yang sudah dilihatnya serta
mencari cara pemecahannya melalui presentasi. Atau bisa juga dengan cara
memberikan tugas pada siswa untuk membuat video tentang bimbingan sosial,
dengan tema pergaulan yang sehat, Penyesuaian diri dilingkungan baru, Adab
berteman, Adab bersosialisasi dengan orang yang lebih tua, dan selanjutnya hasilnya diupploud di youtobe.
Kemudian pada saat layanan Bimbingan konseling siswa diminta membuka youtobe
dan dikomentari oleh kelompok lainnya. Tujuan uppoud di youtobe, selain
bermanfaat bagi diri sendiri juga bisa berguna bagi orang lain yang melihatnya.
Sedangkan
layanan bimbingan klasikal diluar kelas, guru bimbingan konseling menggunakanan
literasi sains. Siswa diajak untuk kunjungan kampus. Disana mereka mendapatkan
informasi tentang pendidikan tinggi, mereka juga dapat mengamati bagaimana
proses perkuliahan, dan juga menanyakan tentang hal yang kurang dipahaminya.
Serta menulisnya sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan studi
lanjutnya kelak. Disamping itu sebagai bahan untuk presentasi di sekolah.
Layanan
bimbingan karir tentang perguruan tinggi kedinasan, dapat menggunakan literasi
numerasi. Perguruan tinggi kedinasan berbeda dengan perguruan tinggi pada
umumnya, salah satu yang membedakan adalah persyaratannya, mulai tinggi dan
berat badan, juga adanya test kesehatan maupu test fisik. Siswa mengukur tinggi
dan menimbang berat badannya dengan meminjam timbangan dan alat ukur tinggi
badan milik UKS. Selanjutnya perkelompok
siswa membuat survai tentang bakat dan minat siswa dalam studi lanjut perguruan
tinggi kedinasan.
Literasi multidimensi dalam
bimbingan konseling selain diberikan langsung pada siswa seperti halnya diatas,
juga bisa diberikan secara tidak langsung. Kembali lagi guru bimbingan
konseling dituntut untuk kreatif dalam layanan bimbingan tidak langsung ini,
membuat leaflet bimbingan konseling. Leaflet ini berupa selembar kertas dengan
desain yang menarik berisikan berbagai infomasi, misalnya cara belajar yang
efisien, mengatasi rasa rendah diri, maupun tentang etika pergaulan remaja.
Leaflet ini dicetak dalam satu halaman bolak-balik dan dikemas dalam lipatan.
Disini siswa dituntut untuk gemar membaca dan memahami isi dari leaflet
tersebut.
Selain
leaflet guru bimbingan konseling berkreasi membuat media papan bimbingan, berupa
poster, artikel, gambar ataupun yang lainnya kemudian ditempelkan dipapan
bimbingan yang dibuat menarik. Tujuannya membiasakan siswa untuk membaca,
memahami dan mencatatnya kembali hal-hal yang dirasa penting. Baik Leaflet
ataupun media papan bimbingan keduanya
menggunakan literasi baca dan tulis.
Masih banyak literasi multidimensi
lain yang dapat diterapkan dalam layanan bimbingan konseling.
Literasi
begitu pentingnya dalam kehidupan
terutama pada jaman yang diwarnai kecanggihan teknologi saat ini. Dengan kemampuan berliterasi akan menjadi
kunci berprosesnya berpengetahuan dan berperadaban.
LITERASI MULTIDIMENSI DALAM
BIMBINGAN KONSELING
MELALUI PAPAN BIMBINGAN
(Doc : Pribadi)
Komentar
Posting Komentar