GURU BIMBINGAN KONSELING YANG DIRINDUKAN

ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0


Perubahan  teknologi digital memberikan dampak yang luar biasa dalam berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan. Dimana guru dan siswa dituntut untuk menguasai dan memanfaatkan secara positif teknologi digital. Jika tidak kita akan ketinggalan. Karena arus informasi melesat dengan cepat bak meteor yang jauh ke bumi. Tidak bisa dibendung namun menuntut kita mengikuti, meskipun terkadang masih terseok-seok.

Menjadi Guru Bimbingan Konseling yang dirindukan?

Kenapa tidak?

Untuk menjadi seorang guru  BK yang dirindukan siswanya sebenarnya tidaklah susah, namun juga tidak begitu gampang. Tidak bisa dipungkiri fakta dilapangan sering dijumpai bahwa masih banyak guru BK yang disamakan dengan “Polisi Sekolah”. Si Tukang pencari masalah. Sehingga siswa menganggap guru BK tugasnya menangani anak-anak nakal saja. 

Semua itu tidak benar tetapi juga tidak salah. Mengapa anggapan seperti ini masih ada dari jaman saya sekolah sampai sekarang sudah menjadi seorang guru? Dan guru BK tepatnya.

Sebenarnya yang bisa menjawab semua itu adalah diri kita sendiri sebagai guru BK, coba kita merenung dan intropeksi diri, kenapa anggapan itu masih terpatri dalam benak siswa kita?

            Apakah kita sebagai guru BK masih berpenampilan tidak ramah dan arogan?

Yang ekstrim lagi masih ada rekan guru menganggap bahwa  guru BK tidak ada pekerjaannya. Hanya thenguk-thenguk saja. Maka tidak heran jika ada guru BK di beri tugas menjadi guru piket atau sebagai tambal butuh. Dan menjadi “tempat sampah”.

Seperti misal ada guru yang tidak masuk karena sakit atau tugas lain maka guru BK lah yang disuruh untuk mengganti jam tersebut, dengan alasan agar kelas tidak kosong. Benar-benar memprihatinkan. Dan ironisnya masih ada guru BK yang yang menikmati sebutan itu.

Sekarang sudah abad 21, bukan jamannya lagi seorang guru ditakuti apalagi guru BK. Yang seharusnya lebih dekat dengan siswanya.

Kalau ada yang mengenal permainan, engkle, gobak sodor, beteng-betengan berarti itu generasi jadul alias lama. Disadari atau tidak jaman itu kita berinteraksi  sangatlah sempit. Beda dengan sekarang , generasi mellennial, ya! generasi yang hidup di era digitalisasi yang  melesat  bak meteor, cepat dan selalu up to date. Internet dan smartphone yang menjembatani mereka berinteraksi dengan luas dan bebas, hal ini menyebabkan  permasalahan siswa  lebih banyak dan lebih kompleks jika dibanding semasa kita dulu. Bagaimana kita bisa membantu mengatasi masalah siswa, kalau kita sendiri tidak mau mengerti mereka?

Ada empat pilar  tugas BK yang harus kita emban, yakni  memberikan layanan Pribadi, Layanan Sosial, Layanan Belajar dan Layanan Karir.

Ke empat tugas itu mustahil terlaksana jika  kita sebagai guru BK tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan siswa. Tepatnya membangun hubungan yang baik, berusaha tampil lebih terbuka pada siswa, gunting jarak siswa dan guru. Sehingga tidak ada jurang lebar yang memisahkan. Hal ini sangat menguntungkan bagi guru BK, akan mudah untuk masuk ke dunianya.

Hanya bermodal  senyum,   guru BK bisa memberikan kesejukan di sanubari mereka. Dan dengan empati yang  kita miliki akan lebih mudah menggiring mereka untuk membantu mengentaskan permasalahan yang sedang menghimpitnya.

            Apakah itu susah? Tidak.

Karena kita pernah melewati masa muda seperti mereka, mengapa kita tidak mencoba untuk mengerti mereka bukan sebaliknya kita menuntut mereka mengerti kita. Sekali-kali pandanglah mereka dengan kacamatanya. Bukan dengan kaca mata kita.

Selain itu guru BK harus mampu  menjadi mediator yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan orang tua jika terjadi kesalah pahaman. Bukan justru sebaliknya menjadi  provokator. Guru BK bisa menyimpan rahasia. Privasi siswa harus selalu dijaga dan dilindungi jangan sampai terdengar orang lain, apalagi sengaja disebar luaskan. Tidak sesuai dengan kode etik BK.

Apakah itu sudah cukup? Jelas belum. 

Siswa sekarang lebih canggih,  HandPhone tercanggihpun telah  mereka kuasai dengan baik. Mengapa itu tidak kita manfaatkan? Toh sah-sah saja jika mereka  curhat  melalui  media elektonik.

WathsApp, Line, FaceBook, ataupun yang lainnya bisa dipakai sebagai media layanan BK, baik karir, pribadi, sosial dan belajar.  Coba bayangkan jika ada sekolah yang mempunyai siswa ribuan dan guru BK nya hanya tiga, mana mungkin semua bisa terlayani?  Apakah mereka harus antri untuk sekedar mengeluarkan uneg-unegnya? Bagaimana  dengan siswa yang tidak kebagian waktu? Bagaimana menjaring siswa yang pemalu?  Media elektronik solusinya.

Guru BK harus mampu membuat gebrakkan baru, mau dan  selalu berinovasi. Jangan mau kalah dengan siswa, bukan berarti bersaing dengan mereka. Memang sering kali kita dianggap kuno dan gaptek. Agar tidak ada lagi anggapan itu, kita harus belajar teknologi digital. Cara mudah dan jitu  belajar pada siswa. Gratis lagi. Lumayankan?  Asal kita tidak malu pasti mereka dengan senang hati akan membantu.

Hal lain yang harus dilakukan guru BK yakni  menumbuhkan siswa mau datang sendiri ke ruang BK untuk berkonsultasi. Syaratnya ternyata tidak serumit benang ruwet.  Guru  dituntut untuk mempunyai wawasan yang luas. Karena salah satu pendukung keberhasilan konseling adalah guru BK mempunyai berbagai informasi yang terkini, luwes dan bisa komunikasi dengan baik. Untuk mendapatkan itu guru BK harus mau belajar dan belajar.

Nah!  Kita harus mampu  mengubah paradikma guru BK bukan polisi sekolah menjadi guru BK  yang dirindukan siswanya.

Sehingga profesi guru BK tidak lagi dianggap pekerjaan yang biasa-biasa saja. Namun  sebutan guru Bimbingan konseling yang profesional dan bermartabat bukan hanya slogan semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LITERASI MULTI DIMENSI DALAM BIMBINGAN KONSELING